Curhat Pendidikan #001

Latar Belakang
Pikiran ini berawal dari ketika saya membaca buku dolob undercover #5 pada halaman 31 mengenai BAK_SAMPAH #19.


Pemulung dan pedagang dilarang masuk kampus?

Soal konten dari curhatan dolob dalam buku tersebut saya tidak berani ambil komentar, toh saya ini (setidaknya sampai saat ini) tidak pernah terdaftar sebagai mahasiswa manapun. Orang bodoh yang tidak mempunyai sertifikat untuk dibilang pintar, terdidik, dan hal-hal keren lainnya. Intinya saya enggan (tidak berminat) untuk masuk dalam pembahasan diatas.


Bahasan Sederhana
Sedikit pikiran dalam benak saya yakni beberapa kondisi yang terjadi dalam dunia pendidikan kita. Tidak sedikit guru-guru yang turut berkarya membuat LKS (Lembar Kerja Siswa), uniknya tidak jarang para siswanya diminta untuk membeli LKS hasil karya guru tersebut.

Ini bisa dimaklumi dengan asumsi rendahnya gaji guru terutama untuk sekolah swasta tertentu yang sebenarnya jumlahnya banyak (senasib). Dan mungkin bagi para guru-guru honorer yang mempunyai gaji per bulan masih jauh dibawah UMP setempat.

Andainya kegiatan mengajar diniati sebuah nilai ibadah dan gaji hanyalah sebuah bonus yang didapat. Sungguh mulia pekerjaan seorang guru.

Dalam sudut pandang yang lainnya, saya pernah berjumpa dengan seseorang yang sebenarnya kekurangan dalam hal materi. Menjadi seorang guru karena gengsi pekerjaan yang lainnya dianggap rendahan sehingga orang tersebut memutuskan untuk menjadi guru bantu. Meskipun uang pas-pasan, setidaknya profesi guru di negeri ini masih sangat dihormati bagi kebanyakan (masih dianggap pahlawan [tanpa tanda jasa]).

Masalahnya adalah kita sebagai makhluk hidup perlu sandang pangan dan papan. Kalau memang dari suatu pekerjaan tidak mencukupi alangkah baiknya (menurut saya) mencari tambahan yang lainnya asalkan caranya baik insya Allah berkah. Tidak perlu kemakan gengsi daripada kita hanya memakan gengsi. Hehehe.. Sandang kurang ya minimal pangan. Mungkin kita bisa menahan lapar, tapi belum tentu anak dan istri kita sanggup.

Nah, lalu apa kaitannya dengan memulung kurikulum? Berdagang?
Mengarahkan generasi muda agar siap dengan apa yang harus dihadapi di fase selanjutnya sangatlah baik. Disesuaikan dengan pasar yang semoga dari lulusnya itu bisa diserap dengan baik sesuai dengan kenyataan yang harus dijalani itupun juga tepat. Tetapi kalau hanya digunakan sebagai obyek untuk bersaing di pasaran sekedar untuk sesuap nasi (pendidik) tanpa mengedepankan apakah hal itu benar-benar akan berguna bagi generasi penerus. Saya rasa itu bukanlah jalan yang baik untuk diambil. Pembodohan yang terstruktur. (Maaf kalau ada yang salah, maklum curhatan orang bodoh)



Lantas, apakah saya hendak menyalahkan perihal LKS yang setiap sekolah (mungkin) berbeda-beda itu? Tentu saja tidak. Saya tidak berani.

Beberapa waktu yang lalu saya berjumpa dengan seorang dosen swasta dari Kota Gudeg. Beliau bercerita tentang suatu kondisi dari Negeri Barata dan Anak Benua yang konon para dosen tidak turut serta dalam menentukan kurikulum apa yang akan diajarkan kepada mahasiswanya. Akan tetapi orang-orang yang dianggap sesepuh dalam hal itu (expert) lah yang bertugas untuk menentukan itu, dan seorang expert tadi harusnya tidak turut mengajar. Bahkan metode yang digunakan untuk menentukan kurikulum tersebut justru malah secara rutin memantau pasar sehingga didapatkan formula yang benar-benar dibutuhkan oleh pasar. Konon disana lulusan suatu universitas bisa terserap 96% dan siap bersaing di kehidupan nyata. Wallahu A'lam..

Kalau dibandingkan di Negeri ini? Berapa persen para sarjana itu dapat diserap pasar? Saya tidak berani membandingkan. Toh saya juga enjoy hidup di Negeri yang kaya raya, gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo ini.

Harapan saya, semoga para pendidik benar-benar mendidik anak didiknya ke arah yang baik. Mohon untuk tidak sekedar dijadikan obyek mencari sesuap nasi. Di niati ibadah insya Allah berkah.

Apalagi dibodohi dengan menawarkan bisnis-bisnis yang tidak jelas arahnya. Sekedar dijadikan downline suatu bisnis MLM dengan menawarkan impian-impian kosong. Kalau produk yang dijual jelas ya masih mending, kalau tidak ya kasihan downline-nya. (yang ini sebenarnya tidak pas masuk di postingan ini).

Soal sedikit pembahasan tentang buku obyekan tadi, saya mohon maaf. Silahkan dilanjutkan. Bukan salah anda, memang keadaan yang memungkinkan itu bisa terjadi.

Semoga kelak saya bisa menjadi seorang pendidik yang bermanfaat. Lumayan (luar biasa) lho, bisa menjadi ilmu yang bermanfaat yang insya Allah menjadi amal jariyah bagi kita. Aamiin...

Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani.

Salam Perjuangan..!!!

Berlangganan untuk menerima update email gratis:

0 Response to "Curhat Pendidikan #001"

Posting Komentar

Saran ataupun Kritik anda sangatlah berguna untuk perkembangan selanjutnya blog kami. Terima kasih telah berkunjung dan semoga anda suka.